Sun Go Kong

Kira-kira sebulan yang lalu kami sekeluarga pergi ke negeri China, dengan peradaban istimewa dan sejarah yang luar biasa memang indah atau orang sana banyak berkhayal dan membumbu-bumbui cerita (tapi serius, China is magnificent!) Saya sangat tertarik dengan legenda tentang Naga, mungkin sedikit terpengaruh Targaryen, tapi bukan itu kayaknya.

” Ada sembilan anak Naga ” Kata Ko Acai sang tour leader bercerita, dia asli China tapi lancar bahasa Indonesia. ” Anak Naga yang pertama itu jadi kudanya biksu Tong Sam Chong yang cari kitab suci dengan Sun Wu Kong…”  wah saya baru tau. ” Yang kedua jangan tanya saya, saya cuma tour leader bukan profesor. ” Wah sialan.

Saya langsung google cerita Monkey King begitu pulang ke Indonesia, karena ini cerita legenda dan film silat favorit saya masa kecil. Ternyata Ko Acai bukan sembarang sebut, memang betul begitulah ceritanya.  Biksu ini adalah si gurunya Sun Go Kong atau kera sakti atau monkey king. Kuda putihnya adalah penjelmaan anak kaisar naga yang pertama.

Terbawa suasana liburan, saya pun melamun karena kurang kerjaan di hari libur. Dulu saya suka sekali dengan cerita ini, dan di luar kehendak orang tua saya, saya suka dengan tokoh Sun Go Kong yang nakal.  Karena banyak waktu, saya coba menyama-nyamakan nasib dan sifat saya dengan kera ini. Ternyata lumayan mirip… dia punya cita-cita untuk jadi dewa, tetapi mana mungkin karena dia kan monyet. Saya juga selalu punya cita-cita yang di luar jangkauan, misalnya jadi supir truk gandeng, atau jadi pebisnis WC umum mobile. Sun Go kong sering diberi tugas-tugas yang bagus dan mulia, bahkan dimaafkan berkali kali karena memang dia kuat dan orang-orang tau dia ‘able’, sayangnya dia selalu screwed up dan berakhir dihukum. Inilah yang menggugah saya.

Waktu saya pindah pekerjaan lagi (lagiiii???, semua orang koor) saya cukup ragu-ragu lama. Banyak orang yang berpikir ini masalah uang, tetapi bukan. FYI, saya merasa cukup well paid koq sebagai seorang guru. Saya tidak bisa mengatakan kenapa, pada atasan saya yang dulu, maupun atasan saya yang baru. Murid-murid saya berkata saya pasti mencari sesuatu yang lebih besar, lebih tinggi. Awalnya saya pikir memang betul, tetapi bukan juga.  Apa kurang dihargai? kurang diberi tanggung jawab? tidak ada apresiasi? bukaaan.

terus kenapa?? saya bertemu jawabannya waktu mengenang kembali pahlawan masa kecil saya, Sun Go Kong. Dia punya kesaktian luar biasa, bisa mengubah diri jadi  ratusan binatang, kekuatan super, bulu-bulunya bisa berubah jadi tentara monyet, matanya bisa melihat jauh, super cerdik dan pintar. Makanya dia dipekerjakan oleh banyak dewa, bahkan oleh sang kaisar naga sendiri. Tetapi dia mencari sesuatu yang lain, makanya entah kenapa dia selalu berbuat onar dengan hidupnya sendiri. Saya rasa, banyak orang juga begitu.

Seorang pahlawan tidak harus selalu seperti superman yang dari lahir sampe mati kerjanya menyelamatkan dunia, seorang pahlawan bisa saja nakal dan mengambil keputusan-keputusannya sendiri, walaupun kadang salah dan berakibat buruk bahkan hukuman. Tetapi somewhere, someday, akan ada orang-orang yang membutuhkan nya, bergantung padanya, bahkan  hormat kepadanya karena kemampuannya memang tepat untuk tugas tersebut. Dia bahkan tidak harus menjadi pemimpin rombongan, dia juga bukan yang paling manis atau paling baik.

Mungkin perjalanan saya ke barat baru saja dimulai, atau bahkan belum mulai sama sekali., yang pasti, saya sudah lebih percaya diri untuk menjadi diri sendiri saja. Berpindah karir dan terlihat tidak punya integritas? mungkin selamanya orang akan melihat saya sebagai pribadi yang tidak dewasa dan bandel. Yaaa bodo amatlah. Apa mau dikata, toh kenakalan itulah sebabnya Sun Go Kong dipilih oleh biksu menjadi murid pertamanya.  Kalau Sun Go Kong bisa meraih cita-citanya menjadi dewa, sayapun yakin bisa.

Tapi hmm, kalau bisa gak perlu pake ikat kepala kali ya?

https://en.wikipedia.org/wiki/Sun_Wukong

Posted in Everyday life | Tagged , | 1 Comment

More than works

Saya baru selesai membaca sebuah artikel mengenai “green jobs”. Saya jadi tau bahwa green jobs adalah pekerjaan2 yang mementingkan sustainability dari hasil atau proses yg dipakai. Katanya, misalnya petani yg masi pakai pestisida yg merugikan ekosistem itu belom “green” tapi masih “brown”. Saya nge-wow dalam hati… Hari gini, pekerjaan aja direse resein, pdhl kayaknya utk dapet kerjaan aja ga gampang…
Tapi saya pikir-pikir, kalau kita memang punya minat dan yakin punya keahlian dlm bidang tertentu, boleh aja donk pilih2 kerjaan. Memilih kerja yg enak dan dapat duit banyak! Semua orang jg maunya begitu, bung. Tapi mengutip kata-kata kamenashi kazuya “the world is not so sweet”, kita harus sadar banyak sekali tantangan di dunia ini…mengerjakan yg disuka pun bukan berarti gampang.
Dulu saya pernah nonton tentang world’s most dangerous job. Keren memang,nomor satunya adalah penangkap king crab di laut dekat alaska sana. Tapi ya, yg menjadi tantangan orang skrg itu bukan karena pekerjaannya “berbahaya” tapi biasanya krn hal2 yg lebih duniawi seperti “bosan” atau “bos nyebelin” atau “dibuli temen kerja” atau malah “kerjaan kurang menantang”. Apakah memang kita harus melanglang buana untuk mencari pekerjaan sampai dpt yg cocok? Atau cukup bersyukur aja dengan apa yg dipunya dan kerja setia di situ?

Menurut saya sih, sebelum mengeluh bahwa pekerjaan kita itu susah atau membosankan, coba tengok2 dulu deh orang lain. Di mall dekat rumah saya, bagian basementnya ada sepotong kecil yang dijadikan tempat kios2 furniture. Setiap saya lewat situ, mbak2 dan mas2 yang jaga tokonya terlihat dlm posisi “trans” alias antara dunia nyata dan dunia maya. Di ruangan super dingin yang tidak masuk sinar matahari dan sepi, mereka harus berjaga 8 jam… Dikelilingi kasur2 dan sofa2 empuk, tanpa boleh memejamkan mata, apalagi tidur2an disitu. Bayangkan, godaan terbesar di depan mata! Dan setiap hari mereka deal dengan godaan lirikan mesra kasur empuk yg seolah menunjuk nunjuk perut empuknya “liat nihh…ngantuk kann…? Yuk sini….bobo…” Ckckck bagai ditawarkan air dingin saat berpuasa di padang pasir.

Kalau soal rajin bekerja, saya pasti ingat dengan toko dvd di dekat rumah saya dulu. Yang punya koko2, jualannya cukup lengkap,lokasinya oke, dan kerennya, kami gak pernah liat dia tutup toko! Saya dan teman2 sering ke toko itu, biasanya malam hari… Tapi percayalah, semalam apapun kami lewat situ, si koko masih buka. Mungkin jam 3 pagi tutup, tapi karena saya anak baik jd gak keluyuran cari dvd jam 3 pagi sih, ngapain juga. Kalau lebaran, biasanya toko2 akan tutup bbrp hari karena pegawai mudik. Nah di toko itu juga punya bbrp orang pegawai, dan gak mungkin utk dibuka kalau sendiri. Saya dan teman2 pun bertaruh, si koko pasti tutuplah nih. Dan ternyata saudara2, dia tetap buka… Siapa pegawainya? Ternyata mama dan papanya diperbantukan di tokonya sendiri! Si om dan tante terlihat seperti kasir amatir, sambil masuk2in dvd ke dlm bungkusnya. Ckckck kami pun salut sama si koko, sampai kami berkhayal sepertinya kalau tsunami menyerang pun, si koko akan tetap getol menjajakan dvd di atas perahu karetnya:”Dvd bu? Banyak drama korea baru…”

Kalau dibandingkan dengan lingkungan saya yang cenderung berpindah pindah pekerjaan sambil mencari jati diri, kisah si koko dvd dan penjaga toko kasur sepertinya membangkitkan semangat tersendiri. Semua orang pastinya ingin mengerjakan yang diminatinya, tapi realistis bahwa ada faktor2 lain yang membuat terkadang kita harus memilih antara minat dan yg lain2(uang, keluarga, pendidikan). Saya rasa, yg penting bukan menemukan pekerjaan yg diminati, tapi menemukan minat kita di dalam pekerjaan yg sedang kita lakukan. Do what you love, but more importantly, love what you do.

Percaya gak percaya, sekarang setiap senin sudah gak terlalu berat utk saya… Membayangkan wajah murid2 saya sungguh menghibur hati, walaupun saya tetap harus dealing dengan laporan dan admistratif yg bertumpuk2.menurut org2 yg lebih berpengalaman, tidak ada yg namanya perfect job, but it’s possible to build your own perfect world inside it. 🙂

Posted in Everyday life, People | Tagged | 1 Comment

Confidential faith

Beberapa waktu yang lalu saya yang berganti kedudukan dari mahasiswa jadi pengangguran sedang mencoba mencari pekerjaan yang ceritanya sesuai passion. Lucunya, saya menemukan beberapa pertanyaan yang tidak pernah terpikirkan akan ditanyakan di suatu aplikasi pekerjaan… pertanyaannya tentang iman. Iya bo, saya langsung keder kejang kejang kalau ditanya tentang yang satu ini. Beberapa orang mungkin berpikir saya akan terbakar di tempat kalau ditanya ” Deskripsikan bagaimana keimanan Anda membantu jalan hidup Anda selama ini?” Waduh, gawat.

Sebagai seseorang yang mengkoleksi tengkorak dan menikmati kasus mutilasi di TV, bukan berarti saya tidak religius. Pikiran saya pun melayang membayangkan apa kira-kira jawaban saya, saya yang Katolik dari bayi pasti punya jawaban! ayo pikir! tapi yang muncul adalah cerita unik yang terjadi summer lalu, di bagian selatan Korsel….

Liburan Chuseok yang cukup panjang membuat kami gadis-gadis belia bebas berkelana ke kota kecil di selatan, dengan tujuan Pulau kecil Seomaemuldo yang tersohor keindahannya. Untuk mencapai pulau itu kami harus menginap semalam di kota kecil pelabuhan bernama Tongyeong. Hari itu kami cukup sial. karena angin topan baru merusak pulau Seomaemuldo , jadi dengan bersungut sungut setengah berdengki kami pindah haluan ke pulau Bijindo; angin juga masih cukup kencang jadi rencana kami untuk naik cable car juga batal. Berusaha menenangkan diri karena sedang liburan, kami berjalan-jalan sore ke malam sambil mencoba memotret keindahan kota Tongyeong di waktu malam, daripada gigitin selimut di kamar.

Kami sangat terhibur dengan sunset yang luar biasa keren di Dala Park, sambil makan Kyochon Chicken. Kemudian kami berjalan jalan di sekitar pelabuhan malam hari. Nah, hasil reaksi ayam goreng dan angin malam mungkin kurang bagus untuk perut, saya tiba tiba mules dengan sangat mendadak. Saat itu sudah hampir tengah malam, tidak ada toko yang buka dan kami tidak yakin di mana ada WC. Saya panik luar biasa. Keringat dingin bercucuran, saya buru buru mau cari taksi untuk pulang ke motel. Gak ada taksi. kota kecil. cari cafe, gak ada. kota kecil. cari restoran yang ada wc, gak keliatan di sekitar situ. Saya udah semakin di ujung tanduk. Pandangan mulai mengabur, bulu kuduk berdiri…

Akhirnya kami masuk ke sebuah toko roti, pura pura beli roti dengan harapan bisa pinjam WC. Lutut saya lemas waktu dengar sayup sayup si eonni (mbak) yang jaga toko bilang mereka ga punya WC. Grrrrr. tapi dia menambahkan di akhir kalimatnya, katanya di belakang toko itu ada jalanan, coba jalan terus ada gereja, mungkin ada WC di sana. hebatnya kalo lagi terdesak bahasa korea jadi fasih. Saya setengah berlari ke arah yang ditunjukan si eonni. ternyata jalanan itu menanjak dan menanjak terus… sampai akhirnya di puncak tanjakan itu saya lihat atap runcing plus salib di atasnya, khas gereja. Incredibly, toilet ada di samping gedung, jadi kami tidak perlu masuk. Melihat itu semua serasa ada lagu “Halleluya” bergema dalam bahasa latin di otak saya. Tidak ada yang lebih melegakan dari menyelesaikan panggilan alam , ya kan? tanpa sadar saya pun meneriakkan, terima kasih Tuhan Yesus! tulus, jujur, ikhlas, dari hati. karena umatnya membangun gereja di sini, dengan toilet di samping, tepat saat saya membutuhkan, di negeri lain di antar berantah sekalipun.

Cerita konyol ini mungkin nggak ada hubungannya dengan keimanan, tapi itulah yang saya ingat saat pertanyaan interview itu saya baca. As simple as that, God is always there. Mungkin jadi terkesan lebih religius karena ada gereja yang terlibat disitu… saya hanya menganggapnya sebagai suatu pertanda karena itu hari minggu dan saya membolos ke gereja.Tapi saya kemudian berpikir, saya yang dibesarkan di keluarga besar yang sangat dekat dengan agama Buddha juga seringkali menemukan kedamaian di Vihara, dan saya juga ingat bagaimana Masjid Agung Jepara menjadi tempat menumpang saya waktu saya terdampar di sana…. Saya jadi berpikir, betapa sulitnya jika harus menuliskan tentang keimanan saya… jika hanya melukiskan dengan kata-kata indah seperti yang kita pelajari di pelajaran agama tentunya mudah, tapi apakah itu yang mereka inginkan? Kalau iya, betapa naif-nya pekerjaan ini.

Akhirnya, saya putuskan untuk tidak melamar pekerjaan tersebut, meskipun prospeknya cerah dan sesuai minat saya.

Untuk saya, iman adalah sesuatu yang confidential, bukan karena saya takut tidak diterima kalau saya ceritakan tentang ‘sakit perut di kota pelabuhan’, tapi saya menyadari bahwa saya tidak ingin dinilai dari bagaimana cara saya bisa mengarang indah tentang keimanan saya dan betapa saya percaya pada ajaran agama saya; karena mereka bukan hal yang akan saya ‘jual’ untuk mendapatkan sesuatu, misalnya: pekerjaan. 🙂

It is better in prayer to have a heart without words than words without a heart – Mahatma Gandhi

Posted in Everyday life, People, While in Korea | Tagged , | 2 Comments

Make A Wish

Banyak orang yang bertanya pada saya, apa yang membuat saya pergi ke korea selatan. Saya tidak pernah memberikan jawaban yang sama. Karena saya yakin orang-orang yang bertanya tidak akan membahasnya di sebuah diskusi “serba serbi kepergian adeline ke korsel”. Ga mungkin. alasan lain, karena saya punya banyak hal yg membuat saya duduk di sini sekarang, tapi mungkin, semuanya berawal dari sebuah keinginan.

Waktu saya belum masuk SD, hampir setiap hari saya les belajar membaca di rumah Tante saya yang guru SD, jarak rumahnya dekat, lewat gang, lapangan bola, kandang ayam, warung sayuran, terus sampe. Di ruang les tante, ada sebuah foto yang selalu bikin saya iri, foto keluarga mereka sekeluarga saat sedang liburan di Kanada (kayaknya Kanada, mungkin salah :p), di tengah hutan, di dalam salju dan mereka foto bareng. Saya hanya membayangkan seperti apa rasanya di tengah salju,kayaknya dingin, kayaknya asik… dan diam-diam saya membuat satu keinginan: mau lihat salju.

Tapi lihat salju dimana? Indonesia negara tropis jadi salju paling dekat di Senayan pameran patung-patung es. Saya pun mengerti sendiri, oh berarti harus ke luar negeri. Tapi saat itu orang tua saya tidak punya uang sebanyak itu untuk dihamburkan untuk kami liburan ke luar negeri. Saya idak pernah meminta pada orangtua, hanya mengucapkannya dalam hati.

Saat SD, saya serius mau jadi pramugari, karena mau jalan-jalan ke luar negeri gratis. Dengan serius pula orang tua saya membimbing saya ke arah lain, kata mereka, jadi apapun asal sukses bisa ke luar negeri. oke, saya percaya…namanya juga anak kecil.

Tahun 1999, kelas 1 SMP, saya mulai punya mimpi baru… karena tergila-gila dengan negeri Sakura, saya sangat ingin ingin sekali pergi ke Jepang. Dari Rurouni Kenshin hingga L’Arc~En~Ciel, dari Shanaou Yoshitsune sampai Kamenashi Kazuya, saya pun giat belajar bahasa jepang (giat untuk level saya), bertekad mau ke sana. Seperti yang pernah saya tulis… saya berhasil ke Jepang, 1 bulan penuh disana, gratis untuk program Youth Exchange Lions Club. Tahun 2004, saya yang waktu itu baru kelas 3 SMA, dihadapkan dengan kenyataan hidup sendirian di negeri asing, yang walaupun saya bisa bahasanya, mengenal sejarahnya dan segalanya, tetaplah saya merasa asing dan kesepian. Saya mulai berusaha melupakan impian saya untuk tinggal di luar negeri. Walaupun orang tua saya mencoba membujuk rayu supaya saya coba kuliah di luar negeri, saya bilang “nanti, kalo Ade udah lebih dewasa”

Tapi sesuatu yang sudah tertanam begitu dalam tidak mudah untuk dicabut, saya tetap melihat-lihat kemungkinan untuk pergi ke luar negeri yang terpampang di papan pengumuman kampus. Saya sangat sadar bahwa nilai saya di bawah rata-rata di kampus terkenal itu, kalau disuruh bersaing dengan yang lain pasti kalah donk. sifat saya, kalau mau bersaing harus liat-liat dulu lawannya. Walaupun saya melewatkan banyak kesempatan untuk mendaftar s2 atau kerja saat kuliah, saya tetap percaya bahwa saya akan dapat kesempatan itu, someday somewhere, if God had planned it, and I wish God did.

Saya bersikeras untuk tidak membebani orangtua lagi setelah lulus kuliah, membuat saya menetapkan standar : kalau tinggal di luar negeri harus biaya sendiri, ga boleh masi minta sama ortu. agak tolol sih. karena jadinya saya semakin sulit untuk pergi…

Entah Tuhan kasian sama saya atau memang sudah direncanakan-Nya sejak lama, suatu hari saya ditawarkan beasiswa, ke Korea Selatan. saat itu pertengahan tahun 2010, walaupun badai k-pop belum segila sekarang di Indonesia, tapi saya sudah mencium bau bau ke-alay-an yang akan ditimbulkannya. Saya coba nonton drama korea, nggak suka, dengerin lagu korea, nggak nyambung, nonton variety komedi korea, nggak ketawa. Untungnya, saat itu saya mendengarkan hati kecil saya yang bilang ” go! this may be the only one chance in a lifetime” (keren memang hati kecil saya ngomongnya pake bahasa inggris).

Saya tinggalkan pekerjaan saya yang sangat menarik dan bermasa depan sebagai ‘peramu makanan’, pacar, keluarga dan teman-teman… Saya berangkat, dan jangan pikir semuanya bagaikan the end of fairy tale sampai situ. Susahnya amit-amit… bukan sekali dua kali saya berpikir untuk menyerah dan pulang ke tanah air. Hidup tidak semanis madu, lingkungan juga tidak selembut kapas… hubungan dengan pacar kandas, saya tidak mengerti penelitian apa yg sedang saya kerjakan (co-precipitation, homogeneous precipitation, deposition precipitation, tepok jidat), saya pun sakit-sakitan karena cuaca yang sangat dingin dan fluktuatif. Bagaikan berjalan di jalanan berbatu dan diterpa topan badai dari depan, saya jatuh menggelinding ke belakang, tercabik-cabik.

Kembali lagi saya selalu bertanya, apa yang membuat saya kesini? apa sih?? seringkali saya lupa, seringkali saya tidak peduli alasannya, lebih dari sekali saya merasa bodoh dan merasa salah. Tapi lambat..lambat sekali… saya merangkak maju. ada saatnya saya bisa berjalan, bahkan berlari, tapi banyak juga saatnya saya duduk dan menangis, karena besarnya angin yg menghadang. Biarpun lambat… akhirnya saya pun sampai pada pengerjaan Thesis akhir. Sejujurnya, saya tetap masih merasa penelitian saya tidak sekeren orang-orang lain, saya masih tidak yakin bahwa saya layak lulus, saya tetap si malas yang dulu.

Sampai suatu hari di awal winter, bulan Desember, saya demam, mungkin karena udara yang terlalu dingin atau karena stress mengerjakan thesis dan paper. Tapi akhirnya saya memaksakan diri bangun… setelah melangkah ke luar asrama, saya baru sadar bahwa salju sedang turun. Ini bukan salju yang pertama saya lihat, sudah keb-berapa kali bahkan lupa. tapi hari itu tiba-tiba saja saya teringat dengan foto keluarga tante di ruang les itu.. Saya terbawa perasaan seorang gadis kecil umur 6 tahun, yang begitu terpesona pada sebuah foto salju… sekarang saya disini, 5290 km dari rumah, di tengah hujan salju dan dunia yang memutih. Sambil tersenyum saya melanjutkan perjalanan, at least that dream already came true… and everything I’ve been going through suddenly seems so worth it, to make a little girl’s wish come true.

Mungkin mimpi itu sudah jauh berkembang sekarang, kalau dielaborasi lebih keren mungkin saya bisa bilang saya ingin merasakan pengalaman tinggal di negeri lain, mendalami budaya dan pengetahuan umum, meraih gelar, mendapat beasiswa. ya whatever, tapi saya cukup puas dengan bisa memenuhi satu mimpi dulu, mau lihat salju.

Seorang gadis kecil dari kota kecil, membuat satu permintaan yang tidak pernah dia pikirkan alasan dan akibatnya. Karena itulah saya disini, sekarang. I think, God hears every wish… He may not granted every wish, and you may have to work your ass off to reach it, but it’s okay to take your chance and make one. ^^

429153_10200231999266938_991717207_n

Posted in Childhood Story, Everyday life, While in Korea | Tagged , , , , , | 3 Comments

Taebaeksan, A Frozen Adventure

New year holiday, and though I really want to go on a trip somewhere, I didn’t have time to plan anything, so I thought the last day on 2012 would be spent in my room, maybe watching some horror movies. Then suddenly at 30th January, 11 pm, my friend asked me if I would like to join him on a trip, I hesitated… just like Bilbo Baggins did when Gandalf the Grey asked him to ‘share an adventure’. I felt I wouldn’t make it, I am too weak,  It’s too cold out there, I am Baggins of the Bag End, safe in my hole! But anyway just like that, I showed up at 5 am the next day, with my warmest jacket and my back pack… because I want to be inside the adventure. Up on the misty mountain.  

We started the journey from Seoul to Taebaek city (태백), by bus. the earliest bus is on 6 am, we get on the 7 am one from Dong Seoul Terminal, directly 3.5 hours journey to Taebaek city. Bus from Dong Seoul to Taebaek terminal depart every 30-40 minutes, and cost 21600 won.  From Taebaek terminal, we took the city bus to Taebaeksan ( bus heading to Danggol 당골). Almost everbody on the bus is going to the mountain so we just followed them. T-money that we brought from Seoul can’t be use in that city bus, so we  used cash. It is always best to bring cash whenever you’re going outside the big city.

At around 20 minutes trip to the gate of Mt. Taebaeksan,  the world outside is freezing. White and glittering snow cover all the landscape:  forest, farmland, rivers… It was a clear and sunny day, yet we immediately shivered when we get off the bus.  The temperature was said to be around -12 on the base of the mountain.

I put on everything my friend told me to do, spikes cover under my shoes, hat, hood, walking sticks… because honestly, I was scared I wouldn’t make it to the top and be a hinder to him. I warned him again and again that I will be slow, as slow as a human can be. The first 100 m climb and I already lost my breath… gosh that’s not good. the snow was thick enough to make us drawned to our ankles, but the way for hikers was already cleaned and I guess, hardened. the path was very easy to hike, for the first 2 km.

The view to my left and right was wooden trees covered with snow, it was so beautiful and I enjoyed every little step I made. Then, after 2 km, the mountain kind of really get serious. We were slapped by blustery wind filled with little pieces of ice, every 10 m. The pathway was also become not too friendly anymore. Originally there are nice step and stairways, I guess, but the thick snow already covered everything up so every step was on ice.  I didn’t slip, thanks to the spikes under my shoes, but I lost my breath few times, and I started to feel the chilling wind goes through my jacket.

image_2

After around 1 km, we came to the open field of frozen wonderland. The ground was covered with thick snow, as well as the big trees and their leaves, and the little branches of trees and thatches are freezing, dry sticks covered with ice… shimmering as the sun shine so bright at 2 pm.  To our left we can see the open landscape of mountains cover with ice.. although my hair and face are freezing, but I still can manage a big smile on my face… the splendid scenery of snow for the first time in my life.

We climbed a little from there, and then we reached the top of the mountain, 1567 m above sea level. Maybe it is not that high… but the tremendous chilling wind was so unbearable, I put on another jacket but yet I still feel feezing. My fingers are stiff, and my ears are painful. But I’m happy that I made it… and really glad that I decided to come on this trip. The scenery was beautiful, but we can’t stand the wind so we rush to climb down.   

image_1

The trip down the mountain was very fast as I remember, because most of the time we were sliding instead of walking. It was scary but fun at the same time. 🙂 Sometimes the huge wind still chasing us down and blowing some snow to the sky…although it was chilling, the flying flakes looked so lovely.

Down the mountain, when we were waiting for the bus to take us to Taebaek City, an old man who previously introduced himself as a professor offered us a ride to the terminal. I was so happy that we don’t have to wait for the bus while chilling wind slapping my face. ^^ At exactly 4 pm, we depart from Taebaek terminal, back to Seoul.

Taebaeksan is an unforgettable frosty mountain, a recommended trip to those who enjoy good view or a moderate climb, But be sure to prepare everything well, I think it’s impossible to climb this mountain in snow without the suitable gears.

More than just a view, this trip eventually taught me that sometimes an unplanned trip could be just as fun and enjoyable. As a type A control freak I don’t usually do this, less than 5 hours preparation and find myself shaking in the middle of ice pieces at -25 oC 6 hours after.  But an adventure usually begins by taking a risk…  a well prepared risk, I hoped. ^^ 

Posted in Korea, Uncategorized, While in Korea | Tagged , , , | 5 Comments

Secret Garden

Since last year I had been planning to visit the secret garden in Changdeokgung Palace, as I’ve seen some photos in this place during autumn were splendid. It really was full of colourful leaves in incredible colours, but something I like more about this place is it’s mysterious aura… I am no paranormal, but different from other palaces I’ve been, the pool, the pavilion, the pathways are eager to tell their stories. Who knows what happened exactly in the past right at these points? Maybe there was loneliness, love, excitement, glory, the secret desires, passion, or even admiration…

More than I know, in such a long time, I haven’t feel so attached to my camera… the feeling of wanted to create something beautiful for people to look at is blooming. I put some musics in my ears amd smile full heartedly, alone, looking at the beautiful scenery, and start shooting.

Maybe it is what people called passionate…It is when my whole body feels so full, like there is a tremendous energy bursting from my heart, and I have never felt more free, as I walk in the chilling weather, moving my foot in front of the other, holding my camera. It’s like you don’t need anything else, anyone else, and the world is circling around you.

After I’m done taking pictures there, of course I need to get back to my daily life… but somehow, like a new tiny cell had grew inside me, and within time, I hope it could replace the already saturated black cells. 🙂

at Changdeokgung Secret Garden

Posted in Korea | Tagged , , , , , | 2 Comments

On My Dad’s Birthday…

Today is a special day for my Dad, he is now 56 and he was born on the year 1956. :p
But he is never ordinary, although I’ve known him for not even half his life, it’s more than enough to speak clearly about how superpowered he is, and I don’t talk about superman-kind of power (well, he is an alien) or X-men (they are gifted mutants), maybe more like Batman. ^^

My Dad kept all of his life-story albums neatly, he put together pictures from his infanthood until his marriage days, in order to show them to his children. And he did, and I’m glad he did. Maybe he was kind of nerdy during middle and high school… first, maybe because he was round like a pumpkin :p, but most importantly because of the financial situation of his family. He has a gentleman as a father not a good economy role model, but a gentleman indeed. He has a powerful woman as a mother , whom I believed plays a great role in his life until now. He lost weight during high school, and seeing from his photos, he is an activist in terms of science and education at his school. Despite all his clever mind, he decided to drop out from college on his third year, due to their financial problems . He worked hard, honest and never gives up… and he married this beautiful dentist who happened to be my mom… ^^

And from there, I know him personally. Our life is quite interesting and going upward. From our first little house, to a bigger house where I grew up, then moved to a big city in a cozy house, and now in the capital city’s suburban neighbourhood. My Dad amazingly always provides what I needed, and I have no idea how. Beside his carrier advancements, he always has time for our family. He never complained to take me and my sister to the zoo for a hundredth time with all of that traffic jam. He was a very patient man, as my mom always says.

He is the only one in my home that realised about my passions, he taught me my first drawing lesson, and always complimented my drawings, then give me some suggestions to improve them; he sing along when I played the organ and told me how good I was; even until now, He texted me when I uploaded my new photograph works saying how I should enter a photograph competition, though I know my creations are not that good ^^.
My dad is a fashionable man, from whom me and my sister learn to always appear pretty ( at least in our own opinion) whenever we walk out of our house. When he eats, he can make anything looks tasty, and he always eagers for travelling and food, something I inheritated too. He once complained about his journey to europe with his friends, where they ate some terrible chinese food all through Europe, so he ran away and find the nearest hotdog cart somewhere in Germany, buy a hotdog and described it as ” THIS is what Germany tastes like!”

Some people might think that he was born rich. His face may resembles a wealthy person, many had said. But in fact, he built his carrier from zero. My Grandfather and Grandmother own a small springroll shop, but they don’t want their only son to spend his life selling springrolls, that’s why my dad went to college in the first place. Although he didn’t finish his major in architecture, he worked hard from being a salesman, to this ‘new’ job position called “programmer” around 1980s. He just thought that the title “programmer” will sound cooler when he proposed his girlfriend. ~.^ but anyway, he worked hard and learned harder for this new thing called the computer. He succeeded and he moved forward from there… up and up, and I always wonder how he can avoided all the economic crisis that effected most people. Everytime his co-workers visited our house, I can feel their respects for my Dad, and I never knew why until I started working in a company myself. A nice boss is hard to find, therefore they are respected. 🙂

I was always the naughty one, sometimes I feel my dad often treated me like a son, though he let me wear all of those princess dresses, but he taught me to think like a boy, logic and sharp. He values all my opinions, even the most ridiculous one; then encouraged me to speak my mind freely, and directly to the point. He is also the one who made me interested in science, he said knowledge is never a waste, even from books like “Adventures of Tintin” or “Kariage Kun” you can learn something.

The most inspirational words which I had made my principal quote until now is ” Do not chase wealth, instead chase happiness and passions, therefore money will come to you almost automatically”

He is now 56, a boss that many people respected, a dad to two grown up women, a husband to most wonderful woman, and he is still always there for me. He is still the one that will carry and held me up whenever I want to climb that high statue I cannot reach…

Happy Birthday Dad!

Posted in Everyday life, My Precious | Tagged , , | 2 Comments